CIREBON, (ETNOLOGIMEDIA.COM)- Sekar Pandan Art Festival bakal kembali digelar dengan semarak pada tahun 2025 ini.
Momentum itu menandai 33 tahun perjalanan Sanggar Seni Sekar Pandan dalam merawat dan mengembangkan seni budaya Nusantara.
Festival ini bukan sekadar ajang pertunjukan seni, tetapi juga momentum reflektif atas dedikasi para seniman, budayawan, akademisi, dan tokoh masyarakat.
Tentunya dalam menjaga denyut tradisi dan menyemai kreativitas baru lintas generasi.
Bertempat di Keraton Kacirebona, yang merupakan salah satu sentra budaya adi luhung di Indonesia festival tahun ini menjadi panggung kolaboratif.
Terutama bagi para pelaku seni dari berbagai kota seperti Cirebon, Bali, Jakarta, Semarang, dan Jepara. Rangkaian acara meliputi pertunjukan seni, seminar budaya, lomba kreatif, hingga diskusi terbuka yang melibatkan pelajar, mahasiswa, komunitas seni, dan masyarakat umum.
Ketua Pelaksana, Ratu Stevianny Herlianingrat menyampaikan, bahwa Sekar Pandan Art Festival tidak hanya menjadi ruang ekspresi.
Akan tetapi juga sebagai ruang edukasi dan kolaborasi.
“Festival ini menjadi ekosistem seni yang hidup dan berkelanjutan. Serta wahana pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda,” ujarnya.
Selain memperkuat jaringan kesenian, festival ini juga turut mendorong geliat pariwisata budaya di Cirebon.
“Dengan pendekatan partisipatif dan inklusif, masyarakat diajak untuk terlibat aktif dalam merawat kekayaan budaya leluhur yang kian relevan di era modern,” terangnya.
Koordinator acara, Dedi Kampleng, menegaskan bahwa keberhasilan festival ini tak lepas dari dukungan lintas sektor. “Kami membuka ruang seluas-luasnya untuk kolaborasi dengan pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta, dan komunitas,” ujar Dedi Kampleng.
Sementara itu, Ketua Sanggar Seni Sekar Pandan, Elang Heri Komarahadi, menekankan pentingnya kesinambungan gerakan budaya.
“Kami ingin seni tradisi tidak hanya lestari, tetapi juga adaptif dan inspiratif bagi zaman,” katanya.
Dengan semangat kolaborasi dan dukungan semua pihak, 33 Tahun Sekar Pandan Art Festival diharapkan dapat memperkuat akar budaya.
“Sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya inovasi seni yang berakar lokal namun berpandangan global,” paparnya.***
