Tangis Keluarga Sopir Pabrik, Anak 8 Bulan Harus Jalani Transplantasi Hati

Fawwas Rosdiana, digendong orang tuanya asal Desa Getrakmoyan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, yang didiagnosis menderita atresia bilier dan hernia, membutuhkan uluran tangan donatur untuk biaya pengobatan, Minggu (11/1/2026)./* (foto: ist) 

CIREBON, (ETNOLOGIMEDIA)- Di usianya yang baru delapan bulan, Fawwas Rosdiana, sudah harus bertarung melawan penyakit berat yang mengancam nyawanya.

Balita asal Desa Getrakmoyan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon itu didiagnosis menderita atresia bilier dan hernia.

penyakit langka yang memaksanya menjalani serangkaian operasi hingga direkomendasikan menjalani transplantasi hati.

Fawwas adalah anak kembar. Namun, tak seperti saudara kembarnya yang tumbuh sehat, Fawwas sejak lahir menunjukkan gejala serius.

Seluruh tubuhnya tampak menguning, termasuk bagian mata tanda awal atresia bilier yang menyerang saluran empedu.

Ayah Fawwas, Asep Rosdiana, mengungkapkan kondisi itu diketahui tak lama setelah kelahiran anaknya.

“Sejak lahir badannya kuning semua, termasuk matanya. Tidak lama kemudian dokter bilang anak saya juga kena hernia,” ujar Asep, Minggu (11/1/2026).

Kondisi tersebut membuat kedua orang tua Fawwas harus bolak-balik ke rumah sakit rujukan.

Awalnya, Fawwas dibawa ke RS Ciremai, namun karena kondisi kesehatannya membutuhkan penanganan lanjutan termasuk kadar hemoglobin yang rendah.

Ia dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

“Langsung dibawa ke rumah sakit. Pertama ke RS Ciremai, lalu dirujuk ke RSHS karena HB-nya rendah,” jelas Asep.

Sejak didiagnosis, Fawwas telah menjalani dua kali operasi di RSHS Bandung.

Namun, dokter menyampaikan bahwa tindakan tersebut belum cukup. Harapan satu-satunya untuk kesembuhan adalah operasi cangkok hati.

Saran medis itu menjadi pukulan berat bagi keluarga. Meski tindakan operasi utama ditanggung BPJS, biaya pendonor hati mencapai ratusan juta rupiah angka yang jauh dari jangkauan keluarga sederhana tersebut.

“Saya bingung. Biayanya ratusan juta. Uang dari mana? Saya cuma sopir perusahaan,” ucap Asep dengan nada pasrah.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Getrakmoyan, Junandi. Ia menjelaskan bahwa kendala utama bukan pada operasi medis, melainkan biaya pendonor hati yang tidak ditanggung BPJS.

“Operasinya memang pakai BPJS, tapi cangkok hati itu perlu pendonor. Biaya pendonor itu besar, sekitar Rp150 juta,” kata Junandi.

Dengan keterbatasan ekonomi keluarga, pemerintah desa bersama kader PKK dan perangkat desa berinisiatif membuka donasi secara swadaya.

Penggalangan dana dilakukan langsung ke warga dari rumah ke rumah.

“Pemerintah desa membuka donasi untuk warga. Kader PKK juga turun langsung,” ujarnya.

Namun, hingga kini dana yang terkumpul masih sangat minim. Dari hasil donasi warga desa, baru terkumpul sekitar Rp5 juta, jauh dari kebutuhan yang diperlukan.

Junandi berharap ada perhatian dan kepedulian dari berbagai pihak.

Termasuk pemerintah daerah, agar Fawwas bisa segera menjalani operasi pendonor hati dan memiliki kesempatan hidup yang lebih baik.

“Semoga ada bantuan dari pemerintah dan pihak lain. Kasihan, dia juga berhak sehat seperti bayi lainnya,” pungkasnya.***